
Pada awal kehidupan
manusia tidak ditemukan apa yang disebut diri. Terdapat organisme fisik,
tetapi tidak ada rasa pribadi. Kemudian
bayi mencoba merasakan batas-batas tubuhnya, mereka mulai menge-
nali orang. Kemudian beranjak dari nama yang membedakan
status menjadi nama yang mengidentifikasi
individu, termasuk dirinya.
Kemudi- an mereka menggunakan
kata "saya" yang merupakan
suatu tanda yang jelas atas kesadaran diri yang pasti. Suatu tanda
bahwa anak tersebut
telah semakin sadar sebagai manusia yang berbeda dari yang lainnya. (Horton, 1993). Dengan kematangan fisik serta akumulasi
pengalaman- pengalaman sosialnya anak itu membentuk suatu gambaran tentang diri-
nya. Pembentukan gambaran diri seseorang
mungkin merupakan proses
tunggal yang sangat penting
dalam perkembangan kepribadian.
Pengalaman sosial merupakan
suatu hal penting untuk pertum- buhan manusia. Perkembangan
kepribadian bukanlah
hanya sekedar pembukaan otomatis potensi bawaan. Tanpa pengalaman
kelompok, kepribadian manusia tidak berkembang.
Bahkan dapat dikatakan bahwa
manusia membutuhkan pengalaman kelompok yang intim bila mereka
ingin berkembang sebagai makluk dewasa yang normal.
Keberadaan
kelompok dalam masyarakat merupakan
suatu hal penting dalam perkembangan kepribadian seseorang, karena kelompok- kelompok ini merupakan model untuk gagasan atau norma-norma peri- laku seseorang.
Kelompok semacam itu disebut kelompok acuan (reference group). Mula-mula kelompok keluarga adalah kelompok yang
terpenting, karena kelompok ini merupakan kelompok
satu-satunya yang dimiliki bayi selama masa-masa
yang paling peka. Semua yang berwenang setuju bahwa ciri-ciri
kepribadian dasar dari individu dibentuk
pada tahun-tahun pertama ini dalam
lingkungan keluarga. Kemudian, kelompok sebaya (peer group), yakni kelompok lain yang sama usia dan
statusnya, menjadi penting sebagai suatu kelompok
referens. Kegagalan seorang anak untuk mendapatkan
pengakuan sosial dalam kelompok sebaya sering diikuti oleh pola penolakan sosial dan kegagalan sosial seumur hidup.
Apabila
seorang belum memiliki ukuran
yang
wajar tentang penerimaan kelompok sebaya adalah sulit, kalau tidak dapat
dikatakan mustahil, bagi seorang untuk mengembangkan
gambaran diri yang dewasa
sebagai seorang yang berharga dan kompeten.
Kelompok acuan ini dalam perkembangannya mengalami pergan- tian seiring dengan usia dan aktifitas individu yang bersangkutan. Hanya perlunya disadari
bahwa dari ratusan kemungkinan kelompok referens yang menjadi penting bagi setiap orang dan dari evaluasi
kelompok ini gambaran diri seseorang secara terus-menerus dibentuk dan diperba-
harui. Oleh karena itu, tidaklah salah kalau dikatakan bahwa setiap individu bisa menjadi acuan atau referens bagi individu lainnya dalam pembentukan kepribadian
yang bersangkutan, demikian juga sebaliknya.
Masyarakat yang kompleks/majemuk memiliki banyak kelompok
dan kebudayaan khusus dengan standar yang berbeda dan kadangkala
bertentangan. Seseorang dihadapkan pada model-model perilaku yang pada
suatu saat dipuji sedang pada saat lain dicela atau disetujui
oleh beberapa kelompok dan dikutuk
oleh kelompok lainnya.
Dengan demikian seorang anak akan belajar
bahwa ia harus "tangguh" dan mampu untuk
"menegakkan haknya", namun pada saat yang sama ia pun harus dapat berlaku tertib, penuh pertimbangan dan rasa hormat. Dalam suatu ma- syarakat
di mana setiap orang bergerak dalam
sejumlah kelompok
dengan standar dan nilai yang berbeda, setiap orang harus mampu menentukan cara untuk mengatasi tantangan-tantangan
yang serba bertentangan.
ARTIKEL LAINNYA