Secara umum sistem penangkapan ikan laut dibedakan menjadi dua,
yaitu perikanan pantai dan laut
dalam dan Darat
1) Perikanan Pantai
Perikanan pantai dilakukan di kawasan laut dangkal dengan jarak tempuh kurang
dari 60 mil dari pantai. Jenis penangkapan ikan ini biasa dilakukan oleh
nelayan tradisional yang menggunakan perahu dayung atau kapal motor tempel.
Oleh karena peralatan yang digunakan sangat terbatas, hasil tangkapannyapun
kurang memuaskan. Jenis ikan yang sering ditangkap, antara lain kembung, teri,
petek, lemuru, dan beberapa jenis moluska, seperti cumi dan ubur-ubur.
2) Perikanan Laut Dalam
Perikanan laut dalam merupakan jenis penangkapan ikan di laut lepas atau
samudra yang biasa dilakukan oleh nelayan modern atau perusahaan perikanan dengan peralatan canggih.
Mereka biasa pergi menangkap ikan dengan kapal trawl serta alat
penangkap ikan berupa pukat harimau. Jala ikan jenis ini mampu menjaring
ikan dalam jumlah yang banyak, mulai dari ikan-ikan besar sampai yang ukurannya
kecil. Komoditas yang menjadi andalan tangkapan adalah tuna dan cakalang.
- Beberapa wilayah di
Indonesia yang merupakan kawasan perikanan
laut yang potensial antara lain sebagai berikut.
- Sekitar Selat Malaka
dengan pusat di daerah Bagansiapiapi. Di wilayah ini banyak mengandung ikan
terumbuk.
- Sekitar perairan pantai
utara Jawa, dan Segara Anakan (Cilacap). Selain ikan di wilayah ini banyak
terdapat rumput laut dan agaragar.
- Sekitar Air Tembaga,
Bitung, dan Sulawesi Utara yang banyak menghasilkan jenis ikan tuna dan
cakalang.
- Perairan Maluku (sekitar
Ambon) yang merupakan salah satu zona up welling curent sehingga menjadi
kawasan yang kaya dengan ikan. Di wilayah ini banyak terdapat jenis ikan
cakalang, rumput laut, dan beberapa jenis ikan hias.
- Di daerah Dobo (sekitar
Kepulauan Aru) dan Kepulauan Kei banyak mengandung mutiara, udang laut,
tripang, bunga karang dan rumput laut.
- Perairan sekitar Pulau
Solor dan Alor
3) Perikanan Darat
Selain perikanan laut
juga mengenal perikanan darat yang dilakukan
di air tawar dan air payau. Bentang perairan darat yang biasa dijadikan wilayah
penangkapan atau pembudidayaan ikan antara lain sungai, danau, empang atau
kolam, sawah, dan bendungan (waduk atau danau buatan). Budidaya ikan di sungai
biasanya dilakukan dengan sistem arus deras (water running system) yang
memanfaatkan aliran sungai. Dengan pola ini pertumbuhan ikan relatif cepat,
sebab ikan senantiasa bergerak untuk menahan aliran air dan selalu terjadi pergantian
air.
Bentang perairan darat yang juga potensial sebagai kawasan penangkapan
ikan adalah danau, seperti Danau Poso dan Tempe di Sulawesi. Di wilayah danau
dapat juga diupayakan budidaya perikanan
dengan sistem jala terapung atau keramba. Pola budidaya ikan jala terapung
telah dilakukan oleh penduduk yang tinggal di sekitar Bendungan Jatiluhur,
Saguling, dan Ci Rata (Jawa Barat). Jenis ikan yang biasa diusahakan antara
lain ikan mas dan nila. Bentuk pembudidayaan ikan di sawah dikenal dengan
istilah minapadi, yang merupakan bentuk tumpang sari antara ikan dengan padi
sawah. Pada saat lahan pertanian sawah telah dibajak dan bibit padi mulai
disemaikan, benih ikan juga mulai ditebar, dengan harapan sebelum tanaman padi
besar, ikan sudah dipanen. Jenis ikan yang biasa diupayakan adalah ikan mas
atau nila. Sistem minapadi ini memberikan keuntungan ganda bagi para petani. Di
daerah sekitar pantai dan dataran rendah sering kita jumpai budidaya ikan di
air payau, berupa perikanan tambak.
Jenis ikan yang sering diupayakan, antara lain ikan bandeng, gurame atau udang.
Budidaya ikan air payau agak berbeda dengan air tawar.
Ada beberapa persyaratan fisik yang harus dipenuhi, antara lain
sebagai berikut.
- Perbedaan tinggi muka air
saat laut pasang naik dan pasang surut harus jelas, mengingat ikanbandeng
biasanya bertelur di air laut dan nantinya dijaring untuk dibudidayakan lebih
lanjut di air payau.
- Daerah di sekitarnya harus
subur bagi tumbuhnya berbagai jenis rumput-rumputan yang berfungsi sebagai
makanan utama ikan mbandeng



