Motivasi belajar memegang peran yang sangat penting dalam pencapaian prestasi belajar. Motivasi menurut Wlodkowsky (dalam Prasetya dkk)
merupakan suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu
dan yang memberi arah
dan ketahanan pada
tingkah
laku
tersebut. Motivasi
belajar yang tinggi
tercermin dari ketekunan yang tidak mudah patah
untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan
Biggs dan
Telfer (dalam Dimyati
dkk) menyatakan bahwa pada
dasarnya siswa memiliki
bermacam-macam motivasi dalam
belajar. Macam-
macam motivasi tersebut dapat dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu : 1) motivasi
instrumental, 2) motivasi sosial, 3) motivasi berprestasi, dan 4) motivasi intrinsik.
Motivasi instrumental
berarti
bahwa siswa belajar karena didorong oleh
adanya hadiah atau menghindari hukuman. Motivasi
sosial berarti
bahwa siswa belajar untuk penyelenggaraan tugas, dalam hal ini
keterlibatan siswa pada tugas
menonjol. Motivasi berprestasi berarti bahwa siswa belajar untuk meraih prestasi atau
keberhasilan yang
telah ditetapkannya. Motivasi
instrinsik
berarti bahwa siswa belajar karena keinginannya sendiri.
Motivasi yang tinggi dapat menggiatkan aktivitas
belajar siswa. Motivasi tinggi dapat ditemukan dalam sifat perilaku siswa antara lain :
a. Adanya kualitas keterlibatan siswa dalam belajar yang sangat tinggi.
b. Adanya perasaan dan keterlibatan afektif siswa yang tinggi dalam belajar. c. Adanya
upaya siswa
untuk senantiasa
memelihara
atau menjaga
agar
senantiasa memiliki motivasi belajar tinggi.
Dari berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (dalam Prasetya
) telah menyusun
seperangkat prinsip-prinsip motivasi
yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar yang disebut sebagai
model ARCS. Dalam model
tersebut ada 4 kategori
kondisi motivasional yang harus diperhatikan guru agar
proses
penbelajaran yang dilakukannya menarik, bermakna, dan memberi
tantangan pada siswa. Keempat kondisi tersebut adalah :
1.
Attention (perhatian)
Perhatian siswa muncul
didorong rasa ingin tahu. Oleh
karena itu rasa ingin
tahu ini perlu mendapat rangsangan sehingga siswa selalu memberikan
perhatian terhadap materi pelajaran yang diberikan. Agar siswa berminat dan
memperhatikan materi
pelajaran yang disampaikan guru dapat menyampaikan materi dan metode secara bervariasi, senantiasa mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, dan banyak menggunakan
contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari untuk memperjelas konsep.
2.
Relevance (relevansi)
Relevansi menunjukkan adanya hubungan antara materi pelajaran dengan
kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan terpelihara apabila siswa menganggap apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau
bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.
3.
Confidence (kepercayaan diri)
Merasa diri kompeten
atau mampu merupakan potensi untuk dapat
berinteraksi secara
positif dengan lingkungan. Bandura (1977)
mengembangkan konsep tersebut dengan mengajukan konsep self efficacy.