Diberdayakan oleh Blogger.
vsdvgdebvgd
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Dampak Banjir bagi kehidupan manusia

|| || , || Leave a komentar
Kejadian banjir umumnya memberikan dampak negatif lebih tinggi dibandingkan dengan dampak positif. Dampak negatif terjadi pada saaat kejadian banjir pada setelah (pasca) banjir, sedangkan dampak positif bersifat jangka panjang setelah kejadian banjir. Berikut ini akan kita sebut objek-objek yang hampir selalu terkena dampak negatif banjir yang diakibatkan oleh daya hancur, daya angkut, dan daya kikis air banjir:

a)  Sawah, lahan petanian lain, bangunan dan pemukiman hancur karena genangan, kikisan, dan terseret arus
b)    Bangunan rumah dan pemukiman hancur dan terseret arus
c)   Jembatan runtuh karena pondasinya terkikis air atau hancur terseret arus air
d)    Jalan rusak karena kikisan air
e)    Longsor tebing sungai akibat terpaan dan kikisan air sungai
f)     Bangunan air, jebol atau rusak karena kekuatan arus sungai

Kerugian fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di lembah-lembah pegunungan dibanding pada dataran rendah terbuka. Pada lahan pertanian, banjir memberi manfaat sekaligus masalah. Bila banjir mengakibatkan pengikisan terhadap lapisan bunga tanah (humus), atau lahan terlanda air garam (air salin), maka bertahun-tahun petani tidak akan bisa mengolah lahan untuk bercocok tanam. Di wilayah pesisir, kerusakan besar dapat terjadi akibat banjir. Di wilayah ini selain dari luapan sungai, banjir juga dapat terjadi karena badai yang mengangkat gelombang-gelombang air laut. Jika banjir gelombang pasang terjadi, maka kerusakan akan terjadi pada saat gelombang datang dan pada saat gelombang itu kembali ke laut. Para nelayan akan mengalami kerugian besar, akibat peralatan dan piranti hilang atau rusak. Jangan heran bila pasokan pangan dari laut terhenti atau merosot pada saat dan setelah peristiwa ini. Di sisi lain, banjir bisa menguntungkan karena:

a) banjir bisa menggelontor bahan-bahan pencemar air yang mengendap menyumbat saluran air,
b) banjir bisa menjaga kelembaban tanah dan mengembalikan kelembaban tanah tandus/kering,
c)    banjir bisa menambah cadangan air tanah
d)   banjir bisa menjaga lingkungan hayati (ekosistem) sungai dengan cara menyediakan tempat bersarang, berbiak dan makan bagi ikan, burung dan binatang-binatang liar.
e)  Pengendapan lumpur banjir dalam jangka panjang dapat meningkat kesuburan tanah.



Penanggulangan bencana alam gempa bumi- Sebelum terjadi gempa bumi, Pada saat gempa dan setelah gempa bumi

|| || , || Leave a komentar
Gempa bumi adalah gejala pelepasan energi berupa gelombang yang menjalar ke permukaan bumi akibat adanya gangguan di kerak bumi (patah, runtuh, atau hancur). Sampai sekarang manusia belum dapat meramalkan kapan suatu gempa akan terjadi. Besar kecilnya malapetaka yang terjadi sangat tergantung pada kekuatan (magnitudo) gempa itu sendiri serta kondisi daerah yang terkena gempa itu. Alat pengukur gempa bumi disebut seismograf, yang dinyatakan dalam skala Richter. Gempa bumi merupakan bencana alam yang sering melanda wilayah Indonesia, kira-kira 400 kali dalam setahun. Hal ini terjadi karena Indonesia dilalui oleh dua lempeng (sabuk) gempa bumi, yaitu lempeng Mediterania (Alpen-Himalaya) dan lempeng Pasifik.  Antisipasi yang harus dilakukan bagi masyarakat luas adalah apa dan bagaimana cara menghadapi gempa, pada saat dan sesudah gempa terjadi. Dalam menghadapi bencana gempa bumi misalnya masyarakat Jepang telah tahu bagaimana bereaksi ketika gempa bumi berguncang. Mereka segera mematikan kompor atau api yang menyala, menyambar tas yang telah disiapkan (yang berisi sebotol air mineral, makanan ringan tahan lama, lampu senter, peluit, obat-obatan, radio transistor, dan lain-lain), lalu segera bersembunyi di bawah meja, dan tetap menunggu hingga guncangan reda. Tindakan lari keluar rumah, menurut mereka, malah lebih berbahaya karena ketika gempa besar berguncang, akan terjadi runtuhan bangunan, tiang listrik, dan lain-lain. Dalam pengetahuan itu pula selalu disebutkan untuk segera menghindari pantai (antisipasi tsunami) dan menjauhi tebing (antisipasi longsor). Penanggulangan bencana alam gempa bumi dapat dilakukan dengan cara berikut.

a. Sebelum terjadi bencana alam gempa bumi

·         Sosialisasi potensi gempa di wilayah yang rawan gempa.
·         Mengembangkan bangunan yang relatif tahan gempa, dengan memperkuat atau memperdalam fondasi bangunan, penggunaan material yang ringan supaya bangunan dapat mengikuri getaran gempa.

·         Penguatan jalan, di Jepang jalan dibangun dengan desain seperti gelombang air ketika terjadi gempa.
·         Pendidikan pada masyarakat tentang cara menyelamatkan diri dari gempa dari mulai anak-anak sampai orang dewasa.
·         Monitoring, dengan mengukur gerakan tanah menggunakan skala richter.
·         Persiapan menghadapi gempa di rumah dengan menyiapkan air, makanan, lampu senter, selimut dan pertolongan pertama.


b. Pada saat terjadi bencana alam gempa bumi dan setelah terjadi bencana alam gempa bumi

·         Memberikan peringatan terjadinya gempa kepada masyarakat.
·         Memantau perkembangan gempa dan menyebarluaskannya kepada masyarakat.
·         Memberikan informasi jika keadaan telah dianggap aman.
·         Mengerahkan regu atau tim tanggap darurat ke lapangan untuk memberikan pertolongan.
·         Memperbaiki berbagai fasilitas yang rusak terutama jalan agar bantuan tidak terhambat datang ke lokasi dan masyarakat dapat melakukan mobilitas.
·         Melakukan berbagai upaya rekonstruksi.



Pegertian Tsunami Secara Umum

|| || , || Leave a komentar
Kata tsunami akhir-akhir ini semakin popular dan dikenal di masyarakat dan tampaknya tsunami telah menjadi kosakata baru yang kian akrab didengar dari berbagai media apalagi setelah terjadi bencana tsunami di Aceh. Banyak orang salah pengertian mengenai tsunami bahwa tsunami disebabkan oleh badai angin atau badai hujan yang deras atau bahkan badai ombak laut yang besar. Secara estimologi (asal usul kata), istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang). Tsunami adalah peristiwa datangnya gelombang laut yang tinggi dan besar ke daerah pinggir pantai setelah beberapa saat terjadi gempa bumi, letusan gunung berapi dan tanah longsor di dasar laut serta dampak meteorit. Istilah ini bermula diciptakan oleh para nelayan Jepang ketika mereka kembali ke pelabuhan untuk menemukan daerah sekitar pantai yang dihantam gelombang yang tinggi dan besar.

Dampak kebakaran hutan dan Peran pemerintah dan Masyarakat dalam pencegahan Bencana Kebakaran Hutan

|| || , || Leave a komentar

Kebakaran hutan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar hutan maupun bagi masyarakat yang jauh dari hutan. Bahkan, asap yang ditimbulkan dapat melewati batas negara yang jaraknya ratusan kilometer.
Karena itu, dampak dari kebakaran hutan adalah:

a)      Terjadinya peristiwa kecelakaan transportasi di darat, udara, dan laut berkaitan erat dengan jarak pandang yang buruk akibat kabut, misalnya tabrakan kapal di Selat Malaka pada tahun 1997 yang menewaskan 29 orang.
b)      Terganggunya kesehatan penduduk, terutama penyakit yang berkaitan dengan pernapasan, mata dan kulit. Partikel debu yang mengendap di dalam sistem pernapasan jutaan orang kemungkinan juga menyebabkan berbagai penyakit dan gangguan pernapasan jangka panjang yang kronis.
c)      Terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi penduduk, misalnya penduduk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mengurangi aktivitas kerja dan bermasyarakat.
d)     Terganggunya pertumbuhan tanaman karena sinar matahari terhalang oleh kabut dan asap, sehingga merugikan petani.
e)      Terjadinya kerugian finansial akibat pengeluaran untuk memadamkan api dan terganggunya aktivitas ekonomi penduduk.
f)       Rusaknya ekosistem hutan sebagai tempat hidup atau habitat bagi beragam spesies.
g)      Munculnya protes dari negara-negara tetangga karena mengganggu berbagai aktivitas penduduknya.

Untuk mencegah berbagai dampak yang terjadi akibat kebakaran hutan, maka beberapa upaya berikut dapat dilakukan oleh pemerintah, diantaranya:

·         menyusun peraturan atau undang-undang yang terkait dengan kebakaran hutan dan pengelolaannya.
·         melarang segala penggunaan api untuk membuka lahan di lahan-lahan hutan negara.
·         menghukum pelaku pembakaran yang dilakukan secara sengaja, baik di tingkat nasional dan di tingkat propinsi.
·         memiliki suatu organisasi pengelolaan kebakaran yang profesional.
·         melakukan koordinasi di antara beberapa lembaga yang terkait.
·         meningkatkan fasilitas dan peralatan untuk mendukung berbagai penyidikan di lapangan dan pemadaman kebakaran.

Adapun petunjuk cegah kebakaran hutan dan lahan sebagai berikut:

1.      Bagi Warga
·         Bila melihat kebakaran hutan dan lahan, segera lapor kepada ketua RT dan/atau pemuka masyarakat supaya mengusahakan pemadaman api.
·         Bila api terus menjalar, segera laporkan kepada posko kebakaran terdekat.
·         Bila terjadi kebakaran gunakan peralatan yang dapat mematikan api secara cepat dan tepat .
·         Tidak membuang puntung rokok sembarangan.
·         Matikan api setelah kegiatan berkemah selesai.
·         Gunakan masker bila udara telah berasap, berikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang menderita.

2.      Bagi Peladang

Hindari sejauh mungkin praktek penyiapan lahan pertanian dengan pembakaran, apabila pembakaran terpaksa harus dilakukan, usahakan bergiliran (bukan pada waktu yang sama), dan harus terus dipantau. Bahan yang dibakar harus sekering mungkin dan minta pimpinan masyarakat untuk mengatur giliran pembakaran tersebut. 

Bencana Alam-Faktor-faktor penyebab Longsor

|| || , || Leave a komentar
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas lereng yang mengakibatkan terjadinya longsoran.
Beberapa faktor penyebab longsor di lereng yang sering terjadi antara lain:

a. Hujan
Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi dengan cepat dapat mengisi rongga-rongga tanah dan menjenuhkan tanah. Melalui rekaha tanah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena dua hal yaitu: air secara perlahan diserap oleh tumbuhan, dan akar tumbuhan dapat mengikat tanah.

b. Lereng Terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar daya dorong. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.
c. Tekstur Tanah
Tanah yang bertekstur liat (clay) merupakan tanah halus. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Tanah grumosol merupakan salah satu tanah yang mempunyai tekstur clay dengan sifat khusus, mengkerut dan pecah- pecah jika kering dan mengembang jika jenuh air. Dengan sifat yang demikian, tanah grumosol sangat rentan longsor.

d. Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut cepat lapuk dan menjadi tanah yang rentan longsor apalagi jika terdapat pada lereng yang terjal.


e. Tata Lahan

Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Faktor bobot masa, keberadaan bidang gelincir (lapisan clay) di bawah permukaan tanah, dan tidak adanya ikatan/perkuatan tanah oleh tanaman menjadikan lahan dengan macam penggunaan ini sangat rawan longsor.

f. Penambahan beban pada lereng
Tambahan beban pada lereng dapat berupa bangunan baru, tambahan beban oleh air yang masuk ke pori-pori tanah maupun yang menggenang di permukaan tanah, dan beban dinamis oleh tumbuh- tumbuhan yang tertiup angin dan lain-lain.

g. Penggalian atau pemotongan tanah pada kaki lereng dan penggalian yang mempertajam kemiringan lereng.

h. Getaran atau gempa bumi.


Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah mempercepat ketidakstabilan lereng/tanah sehingga mudah longsor.

Pencegahan Bencana Alam Tragedi Tsunami

|| || ,, || Leave a komentar

Tsunami merupakan fenomena alam yang biasa terjadi namun hampir sedikit sekali dapat diprediksi terjadinya tsunami. Oleh karena itu, ketika tsunami terjadi akan banyak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Namun demikian, untuk menghindari bahaya Tsunami dapat dilakukan dengan memberikan peringatan sedini mungkin pada orang-orang yang tinggal dan berada di sekitar pantai. Di beberapa pantai yang kerap terjadi tsunami seperti di pantai-pantai Jepang dan Amerika telah dipasangi papan peringatan tentang terjadinya potensi tsunami. Di beberapa tempat malah dipasang sistem alarm yang menghubungkan peralatan deteksi tsunami dari instansi berwenang memberikan peringatan. Di beberapa pantai di Jepang malah telah dibuat dinding beton penghalau agar dapat mengurangi laju tsunami, juga dibangun tempat tempat pengungsian. Dengan cara-cara ini potensi kerusakan yang akan ditimbulkan oleh tsunami dapat dikurangi. Cara lain adalah dengan menjaga kelestarian dan keutuhan pepohonan yang ada sekitar pantai. Bila lahan sekitar pantai sudah “tersapu habis” atau pepohonan sudah mulai berkurang maka perlu dilakukan reboisasi. Reboisasi dilakukan sepanjang garis pantai. Makin banyak pohon yang ada dan ditanam di sekitar pantai membuat laju tsunami makin berkurang dan terhambat, sehingga mengurangi kerusakan yang ditimbulkan tsunami.

Cara penanggulangan bencana alam alam kekeringan

|| || ,, || Leave a komentar
Bencana alam alam kekeringan terjadi ketika adanya kesenjangan antara air yang tersedia dengan air yang diperlukan. Di Indonesia, bencana alam ini terkait dengan musim kemarau yang terjadi selama beberapa bulan dalam setahun. Selama musim kemarau jumlah curah hujan sangat sedikit, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.
Selain terjadi karena faktor alam, bencana alam kekeringan diperparah oleh ulah manusia yang merusak lingkungan, khususnya hutan. Hutan berfungsi menyimpan air yang berlebih selama musim hujan. Sebagian air hujan akan tersimpan di bawah permukaan tanah di hutan, sebagian lagi dialirkan menjadi air limpasan yang kemudian mengisi sungai-sungai. Jika hutan ditebang, maka kemampuan tanah untuk menyerap air hujan dan menyimpannya diantara pori-pori tanah menjadi berkurang. Sebagian besar air hujan akan mengalir menuju sungai yang berakibat banjir. Sementara itu, pada musim kemarau hanya sedikit cadangan air yang bisa dialirkan menuju sungai, sehingga menimbulkan bencana alam kekeringan. Sebenarnya dalam penanggulangan kekeringan tidak jauh berbeda dengan banjir. Kedua jenis bencana alam tersebut memiliki keterkaitan yang erat.

Beberapa cara atau metode untuk penanggulangan kekeringan, di antaranya adalah sebagai berikut:

a)    membuat waduk (dam) yang berfungsi sebagai persediaan air di musim kemarau. Selain itu waduk dapat mencegah terjadinya banjir pada musim hujan.
b)    membuat hujan buatan untuk daerah-daerah yang sangat kering.
c)    reboisasi atau penghijauan kembali daerah-daerah yang sudah gundul agar tanah lebih mudah menyerap air pada musim penghujan dan sebagai penyimpanan cadangan air pada musim kemarau.
d)    melakukan diversifikasi dalam bercocok tanam bagi para petani, misalnya mengganti tanaman padi dengan tanaman palawija pada saat musim kemarau tiba karena palawija dapat cepat dipanen serta tidak membutuhkan banyak air untuk pertumbuhannya.
e)    penentuan teknologi pencegahan kekeringan (pembuatan embung, penyesuaian pola tanam dan teknologi budidaya tanaman dll) dan sistem pengaliran air irigasi yang disesuaikan dengan hasil prakiraan iklim.
f)     pengembangan sistem penghargaan (reward) bagi masyarakat yang melakukan upaya konservasi dan rehabilitasi sumberdaya air dan lahan serta memberikan hukuman (punishment) bagi yang merusak hutan


Faktor Penyebab Banjir-Banjir akibat peran manusia secara tidak langsung

|| || ,, || Leave a komentar
Dalan kategori ini, banjir dipandang sebagai peritiwa alam yang terjadi karena kehendak alam. Secara selintas tidak nampak peran manusia secara langsung. Beberapa penyebab banjir yang termasuk kategori ini antara lain:

a)curah hujan tinggi yang menyebabkan debit air sungai lebih besar dari kapasitas alur sungainya, sehingga timbul limpasan/genangan pada daerah dataran banjir.
b)aliran pada anak sungai tertahan oleh aliran pada sungai induknya.
c)terjadinya debit puncak banjir pada sungai induk dan anak sungai pada pertemuan sungai-sungai tersebut pada saat yang bersamaan.
d)terjadinya pembendungan pada muara sungai akibat air pasang laut.
e)terjadinya penyempitan pada alur sungai berupa “Bottle Neck” atau “Ambal Alam”, sehingga menimbulkan pembendungan muka air sungai.
f)terdapat hambatan-hambatan terhadap aliran sungai yang disebabkan oleh faktor penampang alur sungainya yaitu antara lain berupa meander, muara anak sungai pada sungai induknya yang tidak satu arah aliran (Stream Line) dan sebagainya.
g)kemiringan sungai yang sangat landai sehingga kapasitas, pengaliran alur sungai maupun daya angkut sungai terhadap sedimen relatif kecil, kondisi terakhir ini dapat menimbulkan proses agradasi dasar sungai.

Dari tujuh faktor yang disebutkan di atas, tampak bahwa seolah manusia tidak terkait dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Padahal tidak demikian, selain faktor hujan yang memang benar-benar alamiah, faktor lain terjadi karena ada campur tangan manusia, walaupun secara tidak langsung. Sebut peristiwa berikut:

a)Debit puncak yang besar pada sungai induk maupun anak sungainya. Ini bisa dikendalikan dengan penatagunaan lahan yang baik. Jika tataguna lahan baik, luas hutan proporsional (sekitar 40 % dari luas DAS), serta jenis dan karapatan vegetasi memadai, maka debit puncak bisan diturunkan/dikendalikan, sehingga aliran sungai yang tinggi pada saat yang bersamaan dapat dikendalikan.
b)Pembendungan di muara, penyempitan saluran, hambatan aliran dan pengurangan kelandaian sungai, sangat berkaitan dengan proses sedimentasi (pengendapan). Sumber bahan endapan adalah tanah/lahan yang terdegradasi (erosi dan longsor). Dalam erosi, alam telah memberikan batas toleransi besarnya yang masih dapat dibiarkan (antara 2 – 10 ton/ha/thn), Namun, kembali karena ulah manusia, erosi menjadi sangat jauh lebih besar dari pada erosi yang masih dapat dibiarkan.

Mencegah bencana alam banjir dan bencana alam kekeringan

|| || ,, || Leave a komentar
Bencana alam banjir dan kekeringan bisa terjadi secara alamiah maupun karena ulah manusia. Wilayah-wilayah tertentu seperti bantaran sungai dan daerah bekas rawa, biasanya mengalami banjir secara alamiah. Begitu pula bencana kekeringan yang melanda tempat-tempat tertentu yang curah hujannya sangat rendah. Banjir dan kekeringan juga terjadi karena ulah manusia seperti merusak hutan dan membuang sampah ke sungai atau saluran-saluran alir lainnya. Perilaku tersebut, harus segera dihentikan dan mulai melakukan upaya perbaikan dengan mereboisasi hutan dan tidak membuang sampah ke sungai.
Karena itulah, untuk mencegah bencana alam banjir dan kekeringan diperlukan upaya untuk menjaga pasokan air dengan cara:
  1. memelihara hutan dan sumber-sumber mata airnya.
  2. membuat waduk untuk mengatur pasokan air
  3. meningkatkan serapan air dengan membuat sumur resapan, biopori, kolam-kolam, embung dan lain-lain.
  4. melakukan upaya konservasi pada lahan pertanian.

Untuk menghindar dari bencana alam banjir, beberapa hal berikut perlu diperhatikan, yaitu:

a. Sebelum terjadi bencana alam banjir
  • Hindari tinggal di wilayah-wilayah rentan bahaya banjir, seperti di dataran banjir atau dataran yang biasa terkena banjir.
  • Tinggikan bangunan tempat tinggal, sehingga perabotan rumah dan peralatan listrik aman dari genangan air.
  • Bersama-sama dengan anggota masyarakat lainnya membangun tanggul untuk menghambat air masuk ke lingkungan tempat tinggal kita.

b. Pada saat terjadi bencana alam banjir
  • Dengarkanlah radio atau televisi untuk memperoleh informasi
  • Hati-hati air bah yang datang secara tiba-tiba atau banjir bandang. Jika ada kemungkinan terjadinya air bah, jangan tunggu perintah, segera pergi ke tempat yang lebih tinggi.
  • Hati-hati jika kalian tinggal di dekat sungai dan saluran pengaliran karena daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami banjir secara tiba-tiba walaupun tanpa ada tanda-tanda hujan besar.
  • Jika terpaksa harus meninggalkan rumah, pastikan rumah kita aman dari tindak kejahatan
  • Jika ada waktu pindahkan barang-barang yang dianggap penting ke tempat yang lebih tinggi.
  • Matikan listrik dan jangan menyentuh peralatan lstrik jika kalian dalam keadaan basah.
  • Jika kalian terpaksa harus meninggalkan rumah, jangan berjalan melalui aliran air. Bawalah tongkat untuk memastikan jalan berair yang kita lalui aman dari lubang atau benda-benda tajam pada bagian dasarnya.
  • Janganlah mengemudi pada wilayah yang sedang terkena banjir. Tinggalkan kendaraan secepatnya jika air telah naik merendam kendaraan.

c. Setelah terjadi bencana alam banjir
  • Dengarkanlah berita untuk memperoleh informasi tentang kondisi banjir.
  • Perhatikanlah apakah air yang ada layak untuk diminum.
  • Hindari air sisa banjir karena bisa mengandung bahan-bahan berbahaya dan menimbulkan penyakit. Air juga kemungkinan mengandung aliran listrik yang berada di bawahnya.
  • Hindari air yang sedang mengalir.
  • Jika ada jauhi saluran-saluran listrik yang ada di bawah permukaan tanah.
  • Kembali ke rumah jika pihak berwenang menyatakan telah aman.
  • Jauhi bangunan yang masih dikelilingi oleh air. Bisa saja air mengandung aliran listrik atau bangunannya runtuh.
  • Perbaikilah septic tank, jamban, dan sistem pembuangan lainnya karena bisa membahayakan kesehatan jika rusak.
  • Bersihkan apapun yang basah terkena banjir. Lumpur yang tersisa dapat mengandung kotoran dan bahan-bahan kimia berbahaya. 

Bencana Alam-Pengertian dan Proses Longsor

|| || ,, || Leave a komentar
Tanah longsor atau gerakan tanah adalah proses perpindahan massa tanah secara alami dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Pergerakan tanah ini terjadi karena perubahan keseimbangan daya dukung tanah, dan akan berhenti setelah mencapai keseimbangan baru. Tanah longsor terjadi jika tanah sudah tidak mampu mendukung berat lapisan tanah di atasnya. Ini terjadi karena ada penambahan beban pada permukaan lereng, berkurangnya daya ikat antar butiran tanah dan atau perubahan lereng menjadi lebih terjal. Faktor pemicu utama kelongsoran tanah adalah air hujan. Tanah longsor banyak terjadi pada daerah perbukitan. Ciri-cirinya, lereng lebih dari 30 derajat, curah hujan tinggi, terdapat lapisan tebal (lebih dari dua meter) yang menumpang di atas tanah atau batuan yang lebih keras. Selain itu, tanah lereng terbuka yang dimanfaatkan sebagai permukiman, ladang, sawah, atau kolam sehingga air hujan leluasa menggerus tanah dan masuk ke dalam tanah. Jenis tanaman di permukaan lereng kebanyakan berakar serabut yang hanya bisa mengikat tanah tidak terlalu dalam sehingga tidak mampu menahan gerakan tanah. Daerah yang memiliki ciri-ciri tersebut dapat disebut sebagai daerah rawan longsor. Jika suatu daerah termasuk dalam kategori ini, maka kejadi tanah longsor sering diawali dengan kejadian hujan lebat terus menerus selama lima hari atau lebih atau hujan tidak lebat tetapi terjadi terus menerus hingga beberapa hari. Ciri lainnya, tanah retak di atas lereng dan selalu bertambah lebar dari hari ke hari. Hal lainnya, pepohonan di lereng bukit terlihat miring ke arah lembah, banyak terdapat rembesan air pada tebing atau kaki tebing, terutama pada batas antara tanah dan batuan di bawahnya. Keruntuhan, umumnya terjadi jika tanah yang terletak di atas bidang longsor mempunyai bobot masa yang lebih tinggi dan melampaui batas kemampuan (daya menahan) tanah yang terletak di bawah bidang longsor tersebut. Contoh: pada saat hujan deras turun, tanah pada tebing terjal mempunyai potensi longsor yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh air yang masuk ke dalam tanah akan menjenuhkan tanah. Tanah yang jenuh air mempunyai bobot masa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah tidak jeuh air. Jika tebing tersebut mempunyai bidang gelincir (berupa lapisan tanah liat atau sejenisnya), maka dengan mudah tanah dari atas tebing akan meluncur/runtuh. Inilah yang disebut longsor.

Penanggulangan Bencana Alam Longsor

|| || ,, || Leave a komentar
Tindakan yang harus segera dilakukan pada daerah rawan bencana tanah lonsor antara lain, evakuasi penduduk di kaki lereng yang berpotensi longsor jika hujan lebat lebih dari lima jam secara terus menerus. Hal yang sama dilakukan jika terjadi hujan tidak lebat untuk beberapa hari. Tindakan lainnya, tutup semua retakan tanah di atas lereng dengan menggunakan tanah liat atau lempung, sehingga air hujan tidak dapat masuk ke dalamnya. Hindari aktifitas penggalian di kaki lereng atau kegiatan yang dapat menimbulkan getaran karena bisa mengurangi kemampuan lereng menahan longsoran. Selain itu, bersihkan saluran pembuangan air sehingga air hujan tidak tertahan pada lereng, tetapi bisa langsung masuk ke sungai utama. Setelah kejadian longsor, biasanya suasana menjadi panik, masyarakat segera bergegas menuju lokasi untuk memberi bantuan. Beberapa hal yang perlu diwaspadai, yakni hindari penggalian pada kaki lereng tempat longsoran, terutama jika dalam keadan hujan karena dapat memicu kelongsoran baru. Jauhkan masyarakat yang tidak berkepentingan dari tempat timbunan karena akan memadatkan timbunan dan mempersulit usaha pencarian korban. 

Pengertian Bencana Alam Kekeringan

|| || ,, || Leave a komentar
Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang tidak bisa dielakan dan secara perlahan, berlangsung lama, hingga musim hujan tiba. Kekeringan berdampak sangat luas dan bersifat lintas sektoral (ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain). Secara umum pengertian kekeringan adalah kondisi ketersediaan air yang jauh lebih kecil dibadningkan dengan kebutuhan, baik untuk untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Dengan kata lain, kekeringan adalah kurangnya air bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya pada suatu wilayah yang biasanya tidak kekurangan air. Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak sirkulasi musiman ataupun penyimpangan iklim global seperti El Nino dan Osilasi Selatan. Dewasa ini bencana kekeringan semakin sering terjadi bukan saja pada episode tahun-tahun El Nino, tetapi juga pada periode tahun dalam kondisi iklim normal.

Dampak Negatif Erupsi Gunung berapi

|| || ,, || Leave a komentar
Di samping hal-hal positif dengan adanya Gunung berapi, dapat kita jumpai pula beberapa hal yang merugikan atau kurang baik bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah tingkat keasaman air yang tinggi karena kandungan belerang yang tinggi. Air dikatakan baik atau netral, jika derajat keasamannya 7; air bersifat asam jika derajat keasaman kurang dari 7; dan air dinyatakan sangat asam jika derajat keasaman kurang dari 3. Air kawah yang asam mengalir dan bercampur dengan air sungai, maka air sungai tersebut tidak dapat dipergunakan untuk keperluan irigasi, minuman ternak, terlebih lagi untuk keperluan manusia.
Penduduk yang tinggal di sekitar Gunung berapi aktif sering mengalami gangguan kesehatan, seperti kerusakan gigi. Gigi para penduduk berwarna hitam dan lama kelamaan patah. Contohnya dapat ditemukan di sebagian besar penduduk yang tinggal Banyuwangi sepanjang sungai Banyupahit sampai ke Asembagus di kaki Gunung Ijen. Hal ini disebabkan mengkonsumsi air yang mengandung Fluor (F) sangat tinggi dan bila kekurangan Iodium (I) akan mengakibatkan penyakit gondok. Bila Gunung berapi itu meletus atau Gunung berapi dalam keadaan aktif tentu akan merusak semua yang ada disekitarnya. Besar kecilnya kerusakan itu tergantung dari jenis letusannya. Setiap Gunung berapi mempunyai sifat- sifat atau tipe letusan yang berbeda. Banyak Gunung berapi yang telah mengalami masa istirahat sangat lama (ratusan atau bahkan ribuan tahun). Sewaktu-waktu Gunung berapi ini dapat meletus dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan bencana sangat besar dan luas. Beberapa contoh gunung api yang seperti ini, antara lain: Letusan G. Tambora 1815 dan G. Krakatau 1883. Letusan Gunung berapi yang mempunyai masa istirahat antara 30 -100 tahun menimbulkan bencana bersekala menengah, misalnya G. Galunggung (1982). Sementara itu, Gunung berapi yang pada saat ini sering meletus adalah G. Marapi di Sumatera Barat, G. Merapi di Yogyakarta-Jawa Tengah, G. Semeru di Jawa Timur dan G. Karangetang di Sangihe mempunyai derajat potensi bencana relatif kecil dan daerah yang rawan bencana terlokalisir. Bencana dan bahaya letusan Gunung berapi itu berpengaruh secara langsung dan tidak langsung serta dapat merusak bagi kehidupan. Bahaya langsung adalah bahaya yang diakibatkan oleh material yang dikeluarkan secara langsung oleh Gunung berapi itu, misalnya karena terlanda aliran lava, aliran awan panas, tertimpa lontaran batu (pijar), lahar letusan, gas beracun, hujan abu, dan hujan lumpur panas atau lahar letusan bagi Gunung berapi yang di kawahnya terisi air (danau kawah). Daerah rawan bencana yang akan terlanda oleh pengaruh langsung ini mencakup daerah sekitar puncak (kawah) dan berkembang ke daerah lereng (lembah sungai) yang berhulu dari sekitar kawah, dengan jangkauan yang terlanda dapat mencapai lebih 10 km. Lontaran abu Gunung berapi pada saat letusan juga mengancam keselamatan penerbangan karena abu letusan itu mengganggu penglihatan dan merusak mesin pesawat. Sebaran dampak letusan Gunung berapi ini akan sangat luas dari beberapa kilometer sampai ratusan kilometer serta tidak mengenal batas wilayah administrasi pemerintahan. Dampak letusan Gunung berapi, dapat pula berjangka panjang, seperti timbulnya berbagai jenis penyakit, (penyakit gondok dan pertumbuhan fisik terganggu atau cacat fisik, rusaknya gigi akibat air yang tercemari belerang dan unsur merusak dari kawah Gunung berapi). Bahaya tidak langsung adalah diakibatkan oleh aliran lahar dan banjir karena bahan letusan yang tertimbun di lereng bagian atas cukup berpotensi dan terhanyutkan air hujan, sehingga melanda bagian hilir sungai dan daerah dataran di sekitarnya. Jangkauan bencana oleh lahar ini sangat jauh dapat mencapai muara (pantai) pada sungai yang berhulu dari sekitar kawah Gunung berapi yang baru meletus, serta jauhnya jangkauan lahar ini tergantung pula pada curah hujan yang terjadi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kita berusaha untuk mengetahui bencana letusan Gunung berapi, dalam memperkirakan waktu kejadian, menghitung besaran letusan dan sebaran dampaknya melalui berbagai teknik pemantauan, misalnya kegempaan, deformasi, geologi, geokimia dll. Akan tetapi sampai sekarang belum ada teknologi yang dapat mencegah terjadinya letusan.
Pengaruh yang sifatnya merugikan akan adanya Gunung berapi meletus diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Letusan Gunung berapi dengan berbagai material yang disemburkannya sangat berbahaya (dapat mengancam jiwa dan harta).
b)  Bom, lapili dan pasir vulkanik dapat merusak bangunan rumah, jembatan, ladang, dan sawah.
c) Abu vulkanik yang bertaburan di angkasa dapat mengganggu penerbangan, pemandangan menjadi gelap dan akhirnya dapat mempengaruhi tanaman pertanian dan perkebunan.
d)  Aliran lava dan lahar yang panas dapat merusak apa saja yang dilaluinya.
e) Awan panas yang bergerak sangat cepat dapat membunuh penduduk serta hewan dan tumbuhan.
f)  Gas racun (misalnya mofet) sewaktu-waktu mengancam penduduk yang tinggal atau berada di daerah sekitarnya.


TAHAPAN- TAHAPAN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM

|| || ,, || Leave a komentar
Penanggulangan bencana alam adalah segala upaya kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan pencegahan, penjinakan (mitigasi), penyelamatan, rehabilitasi dan rekonstruksi, baik sebelum, pada saat maupun setelah bencana alam dan menghindarkan dari bencana alam yang terjadi. Berdasarkan pengertian tersebut, penangggulangan bencana alam tidak hanya pada saat dan setelah terjadinya bencana alam tetapi upaya pencegahan juga termasuk ke dalam kegiatan penanggulangan bencana alam. Karena itu, penanggulangan bencana alam dilakukan melalui beberapa tahapan.

1. Tahap pencegahan
Pada tahap ini berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana alam. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
  • pembuatan waduk untuk mencegah terjadinya banjir dan kekeringan.
  • penanaman pohon bakau/mangrove di sepanjang pantai untuk menghambat gelombang tsunami.
  • pembuatan tanggul untuk menghindari banjir.
  • pembuatan tanggul untuk menahan lahar agar tidak masuk ke wilayah permukiman.
  • reboisasi untuk mencegah terjadinya kekeringan dan banjir.

2. Tahap tanggap darurat
Pada tahap tanggap darurat, hal paling pokok yang sebaiknya dilakukan adalah penyelamatan korban bencana alam. Inilah sasaran utama dari tahapan tanggap darurat. Selain itu, tahap tanggap darurat bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencana alam langsung untuk segera dipenuhi kebutuhan dasarnya yang paling minimal. Para korban juga perlu dibawa ke tempat sementara yang dianggap aman dan ditampung di tempat penampungan sementara yang layak. Pada tahap ini dilakukan pula pengaturan dan pembagian logistik atau bahan makanan yang cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban bencana alam.
Secara operasional, pada tahap tanggap darurat ini meliputi kegiatan:
  • penanganan korban bencana alam termasuk mengubur korban meninggal dan menangani korban yang luka-luka.
  • penanganan pengungsi
  • pemberian bantuan darurat
  • pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih
  • penyiapan penampungan sementara
  • pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum sementara serta memperbaiki sarana dan prasarana dasar agar mampu memberikan pelayanan yang memadai untuk para korban;

3. Tahap Rehabilitasi
Dalam tahap rehabilitasi, upaya yang dilakukan adalah perbaikan fisik dan non fisik serta pemberdayaan dan pengembalian harkat korban. Tahap ini bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan infrastruktur yang mendesak dilakukan untuk menindaklanjuti tahap tanggap darurat, seperti rehabilitasi bangunan ibadah, bangunan sekolah, infrastruktur sosial dasar, serta prasarana dan sarana perekonomian yang sangat diperlukan. Sasaran utama dari tahap rehabilitasi adalah untuk memperbaiki pelayanan masyarakat atau publik sampai pada tingkat yang memadai. Dalam tahap rehabilitasi ini juga diupayakan penyelesaian berbagai permasalahan yang terkait dengan aspek kejiwaan/psikologis melalui penanganan trauma korban bencana alam.

4. Tahap Rekonstruksi

Upaya yang dilakukan pada tahap rekonstruksi adalah pembangunan kembali sarana, prasarana serta fasilitas umum yang rusak dengan tujuan agar kehidupan masyarakat kembali berjalan normal. Biasanya melibatkan semua masyarakat, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha. Sasaran utama dari tahap ini adalah terbangunnya kembali masyarakat dan kawasan. Pendekatan pada tahap ini sedapat mungkin juga melibatkan masyarakat dalam setiap proses.

Bencana Alam-Proses Terjadinya Tsunami

|| || ,, || Leave a komentar
Ketika terjadi gempa bumi tektonik (akibat pergeseran lempeng bumi), letusan gunung berapi, longsor di dasar laut, benturan meteorit, atau proses deformasi vertikal dasar laut yang mengakibatkan perbedaan tinggi permukaan laut. Perbedaan tinggi muka laut ini memerlukan proses penyeimbangan. Proses untuk mencapai keseimbangan ini menimbulkan gelombang laut yang sangat tinggi (bisa mencapai 50 meter atau lebih) tergantung besarnya deformasi vertikal dasar laut. Panjang gelombangnya dapat mencapai ribuan kilometer dengan kecepatan gelombang bergerak mencapai 500 sampai 1000 km per jam. Biasanya gelombang laut itu akan menghantam pantai atau pelabuhan terdekat dalam waktu 10 sampai 30 menit setelah deformasi terjadi. Gelombang tsunami ini bergerak dari dari dasar laut hingga permukaan laut, dan ikut membawa material dasar laut yang biasanya mengandung lumpur berwarna hitam pekat. Gelombang besar yang memiliki kekuatan sangat besar ini secara simultan dan bersamaan bergerak cepat menghantam pelabuhan atau pantai terdekat bahkan bisa lebih jauh tergantung kekuatan tsunami yang dimilikinya. Bahan dasar laut atau lumpur dari dasar laut ikut tersapu dan terdorong oleh gelombang tsunami menambah kekuatan tsunami, sehingga kerusakan yang ditimbulkan sangat besar.

Pengertian Banjir dan Proses Terjadinya Banjir

|| || ,, || Leave a komentar
Banjir adalah peristiwa terjadinya genangan pada daerah yang biasanya kering (Himpunan Ahli Teknik, 1984). Banjir merupakan kejadian hidrologis yang dicirikan dengan debit dan/atau muka air yang tinggi dan dapat menyebabkan penggenangan pada lahan di sekitar sungai, danau, atau sistem air (water body) lainnya. Banjir biasanya terjadi karena sungai atau saluran tidak mampu mengalirkan sejumlah air hujan yang mengalir di atas permukaan (surface run off). Aliran permukaan dari semua arah dan dari semua tempat menuju buangan alami dalam bentuk sungai atau saluran.
Aliran permukaan dari segenap lokasi dalam kawasan DAS (Daerah Aliran Sungai) akan mengalir ke sungai. Pertambahan aliran permukaan sama artinya menambah beban sungai. Padahal suatu sungai mempunyai kapasitas tampung atau kemampuan mengalirkan air dalam jumlah (debit) tertentu. Pada saat batas maksimum kemampuan sungai mengalirkan air terlampaui, maka sungai akan meluap dan terjadilah banjir. Di samping air, aliran permukaan juga membawa material hasil erosi yang bergerak bersama aliran permukaan dan akan terendapkan pada wilayah yang relatif datar. Oleh karena itu, pada badan sungai di daerah landai, seringkali dijumpai bar, yaitu suatu daratan di tengah atau pinggir sungai yang terbentuk akibat pengendapan (sedimentasi) material yang terbawa arus sungai. Sedimentasi mengakibatkan badan sungai jadi sempit, dangkal, lebih landai, dan mengurangi kecepatan aliran. Dengan kata lain, sedimentasi akan menurunkan kapasitas sungai.
Ketidakmampuan sungai atau saluran untuk mengalirkan air dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Ø  Aliran air terlampau banyak
Ø  Bentuk dan ukuran saluran yang tidak memadai untuk mengalirkan air, misalnya sungai berkelok, dimensinya dangkal dan sempit,
Ø  Kemiringan saluran landai atau bahkan ada saluran yang bagian hilirnya lebih tinggi daripada daerah hulunya
Ø  Hambatan aliran, seperti disebabkan oleh sampah dan pertumbuhan vegetasi di sungai dan saluran yang tidak terkendali

Faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri, satu faktor terkait dengan faktor lainnya. Aliran air yang terlampau banyak, misalnya, dapat diakibatkan oleh hujan yang deras (intensitas hujan tinggi) dalam waktu yang lama, daya resap tanah yang kecil, kerapatan vegetasi (tumbuh-tumbuhan), lahan yang curam, dan lain-lain. Banjir juga dapat berkaitan dengan peristiwa kegagalan bendung atau tanggul, gempa bumi, tanah longsor, air pasang tinggi, ketidaksempurnaan pengoperasian dan pengendalian ssstem air. Dipihak lain, manusia tumbuh dan berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan penduduk ini akan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, seperti: sandang (pakaian), pangan (makanan dan minuman), dan papan (perumahan). Upaya pemenuhan kebutuhan primer manusia ini akan berdampak pada perubahan fungsi lahan. Perubahan fungsi ini, umumnya cenderung tidak memperhatikan kondisi dan kaidah lingkungan.

Lahan dengan berbagai macam penggunaan dan sifatnya, mampu menampung dan meresapkan air hujan. Hutan, perkebunan, lahan pertanian yang baik, sawah, danau dan kolam merupakan macam penggunaan lahan yang sangat baik untuk mengendalikan limpasan.hujan. Namun akibat kebutuhan manusia, semua macam penggunaan lahan tersebut cenderung mengalami pengurangan luas akibat konversi (perubahan penggunaan lahan). Begitu luas, lahan hutan yang menjadi lahan kritis akibat konversi menjadi pertanian tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan. Begitu banyak lahan sawah, danau dan kolam yang berubah menjadi lahan pemukiman. Demikian pula, berapa ribu bahkan juta hektar lahan pertanian produktif berubah menjadi lahan pertanian kritis, lahan pemukiman, dan lahan industri. Dalam kurun waktu 7 tahun, antara tahun 1994 sampai dengan tahun 2001, di Jawa Barat terdapat pengurangan luas hutan primer sekitar 106.851 Ha; hutan sekunder 130.589 Ha, dan sawah 165.903 ha (Rohmat, 2009). Perubahan penggunaan lahan ini mempengaruhi kemampuan lahan untuk menampung dan meresapkan air, sehingga menimbulkan pertambahan aliran permukaan.