Illingworth (1991),
seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut
pengamatannya dapat menjadi penyebab
Anak susah makan.
Pertama, memakan kudapan/camilan
diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang
berasal dari kudapan/camilan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar.
Kedua, perkembangan ego
sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap
mandiri. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga
menolak bentuk dominasi orangtua.
Ketiga, anak ingin mencoba
kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua
melarangnya melakukan hal tersebut.
Keempat, menu tidak
bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk
makanan tidak menarik.
Kelima, anak sedang merasa
tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman. Keenam, Anak
sedang sakit.
Bentuk penolakan Anak
yang susah makan:
Pertama,
memuntahkan makanan;
Kedua,
makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun
memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena
ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia
tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal
tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak
untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua;
Ketiga,
sama sekali tidak mau makan;
Keempat,
menumpahkan makanan;
kelima,
menepis suapan dari orangtua saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak
yang sulit makan.
Cara Mengatasi Anak
susah makan adalah :
Pertama,
kurangi kudapan/camilan atau tidak memberikan kudapan/camilan sama sekali di
antara jam makan. Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak
yang memiliki nafsu makan sangat baik, pemberian kudapan/camilan maupun susu
diantara jam makan masih diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal
tetap dan dosistepat sehingga tidak terjadi obesitas.
Kedua,
menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir
setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang
diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua
harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak.
Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam
atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya. Mempercantik tampilan
makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan
nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir
dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini
akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang
begitu saja di piring tanpa hiasan.
Ketiga,
saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan
anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab
mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang
disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa “anjingnya sekarang
sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru”.
Keempat,
biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak
makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya
oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan
berkembang baik. Kelima, jangan memburu-buru anak agar makan dengan
cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua
sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan
makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa
marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi
anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah
selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu
lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
Keenam,
tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai
keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan
menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan
adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak
memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak
nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
Ketujuh,
jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat,
tidak apa-apa. Singkirkan saja makanan dari meja makan dan anak tidak perlu
diberikan kudapan/camilan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan
demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapas (bukan
kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
Kedelapan,
tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit
dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang,
ia boleh minta tambah. Berikan makanan secara bertahap, jika anak merasa merasa
kurang, ia boleh minta tambah. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan
kandungan gizi satu perssatu mulai dari yang mengandung zat besi dan protein
(daging) sampai terakhir jenis kurang penting misal puding cuci mulut. Jika
anak merasa kenyang sebelum sampai pada makanan, tahap berikutnya orang tua
tidak perlu lagi memaksa anak makan.
ARTIKEL LAINNYA
