Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat
mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Menurut Megawangi, ada tiga
kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding, rasa aman,
dan stimulasi fisik dan mental.
Maternal bonding
(kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan
dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak.
Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman
sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang
ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak
akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia
dewasa. Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia
awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.
Kebutuhan akan rasa
aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini
penting bagi pembentukan karakter
anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi
bayi. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada
perkembangan emosi anak. Menurut Bowlby, normal bagi seorang bayi untuk mencari
kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi.
Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh
para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja
hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal.
Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek
penting dalam pembentukan karakter
anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan
reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan anak,
seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata
anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya
yang berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga
menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan
menjadikannya anak yang kreatif.
ya � N a b P�� P� rbatas pada hal yang sama.
kebeba� s t n �b� � ,
tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang mempersatukan
seluruh komponen bangsa, hak asasi manusia yang terkadang mendahulukan hak
daripada kewajiban. Pada akhirnya berkembang ke arah berlakunya hukum rimba
yang memicu kesukubangsaan . Kerancuan ini menyebabkan orang frustasi dan
cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam bentuk “amuk massa atau amuk
sosial”.
Berhadapan dengan
berbagai masalah dan tantangan, pendidikan
nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda
dengan peran pendidikan pada
negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu
pengetahuan, peranan pendidikan
nasional di Indonesia memikul beban lebih berat Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu
pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan yang tentu saja hal
terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak, yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion
building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa
yang lebih maju dan beradab.
Oleh karena itu, reformasi pendidikan
sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter
atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi
kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun
Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan
berkeadaban, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang
bersatu padu. Di samping itu, peran pendidikan
nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis
untuk mengasuh, membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan
memiliki keadaban kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta
berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter
paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia.
ARTIKEL LAINNYA
