
Dalam
mengantisipasi kehidupan ke
dapan akan terjadi perubahan-
perubahan, baik keadaan ruang dan waktu.
Oleh karena itu bangsa Indonesia harus mempersiapkan
diri melalui dunia pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya adalah sosial futuristik,
karena itu sistem dan penyelenggara pendidikan harus dapat mempredeksi dengan tepat apa
yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan sistem pendidikan harus dapat mempersiapkannya. Sistem pendidikan formal harus
dapat menyesuaikan perubahan zaman meskipun terkesan ―berganti mentri, gasnti
kurikulum. Dalam kurikulum selalu ada yang ditambah atau dikurangi,
siklus panjang harus ada perubahan-perubahan besar.
Ketahanan
nasional merupakan sikap dan ciri untuk dapat bertahan hidup sebagai suatu satua
populasi dalam perjuangan hidup di dunia yang makin interakstif dan
kompetitif. Perjuangan hidup terdiri atas
persaingan dan kerja sama, sedang Ketahanan nasional makin kompleks karena
batas-batas negara makin kabur, terkisis oleh kerja sama ekonomi,
informasi global dan kemajuan IPTEK.
Permasalahan
di atas akan mempengaruhi kebijakan pendidikan, dan kebijakan Ketahanan Nasional sehingga bangsa
Indonesia dapat aman dan bertahan hidup,
Globalisasi akan menyamakan persepsi penduduk di berbagai negara disamping
melemahnya peran negara. Pembaharuan meluas dikuatirkan akan merugikan ketahanan nasional suatu bangsa,
disamping akan terjadi percepatan arus barang, gagasan, uang, termasuk pendidikan, tenaga pendidikan, dan produk pendidikan yang
kometensinya tidak seimbang (T. Jacob, 1998: 221).
Pendidikan mempuyai tugas pokok yaitu pertama: mengajar
keterampilan bertahan hidup dengan pendidikan pragmatis. Kedua; Mempersiapkan
warganegara sesuai dengan
kepribadian kelompok, ketiga; Meningkatkan
martabat manusia (humanisasi). Dalam
aspek pertama, pendidikan mata pencaharian telah berubah terjadi
urbanisasi dan industrialiasi, dari sektor
agraris ke sektor jasa, hidup lambat diubah ke
hidup cepat. Hal ini menutut pengetahuan, keterampilan, kecepatan serta
komunikasi baru.
Dalam
aspek enkulturisasi telah terjadi assosiasi dan dessosiasi baru dalam
kelompok-kelompok di dunia dan gangguan terhadap isolasi budaya.
Adanya ikatan baru dengan interaksi yang bertambah, mosaik etnik mulai lebur
dan pecah, enkulturasi mengalami peristiwa-peristiwa yang kadang kurang nyaman.
Pendidikan berperan mencoba maenyesuaikan diri dengan
proses ini.
Dalam aspek humanisasi; kemajuan
teknologi sangat cepat sedang dalam bidang moral, etika, agama lebih lambat. Kedisiplinan tidak bisa ditatarkan, hal
ini mermerlukan kondisi yang kondusif. Ketertinggalan tampak jelas terjadinya
kekerasan dimana-mana. Aspek-aspek di atas terbengkelai karena secara ekonomis
tidak menghasilkan nilai
ekonomis dan politis yang
dapat dimanfaatkan. Kompetisi dunia pendidikan dalam aspek
pertama, pada hal kekurangan aspek moral, etika dan agama sangat menyentuh ketahanan nasional.
Kegagalan
dalam aspek teknologi membuat bangsa tertinggal dalam hasil bumi dan
pengetahuan, kita akan terisolasi, tergusur ke penggiran, dan tidak berperan
dalam dunia global. Kontribusi kehidupan dunia hanya memberi sumber daya alam,
sumber daya manusia yang murah. Kegagalan dalam aspek nilai kemanusiaan
(humanisasi) meyebabkan kehilangan diri sebagai penyumbang kebudayaan manusia,
disamping kehilangan saluran ekspresi. Kegagalan dalam aspek moral menyebabkan
bangsa Indonesia tidak beranjak dari rasio beradab- biadab.
Tampak
erat hubungan antara pendidikan dan Ketahanan nasional. Oleh
karena pendidikan memang institusi budaya yang menyentuh awal
seorang manusia, dan merupakan alat utama ketahanan nasional. Dalam
mewujudkan ketahanan nasional membangun warga negara sesuai dengan kepribadian kelompok perlu
disosialsiasikan beberapa pendidikan agar menghasilkan ketahanan nasional antara lain
(i) pendidikan demokrasi dan (ii) pendidikan multikultural.