Menurut Megawangi
(2003) ada beberapa kesalahan orang tua
dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi
anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya,
yaitu :
1.
Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun
fisik.
2.
Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya.
3.
Bersikap kasar secara verbal, misainya menyindir, mengecilkan
anak, dan berkata-kata kasar
4.
Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan
memberikan hukuman badan lainnya.
5.
Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara
dini.
6.
Tidak menanamkan “good character’ kepada anak. Dampak yang
ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas, akan menghasilkan anak-anak yang
mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah.
7.
Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak
dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak
percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak
dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya.
la kelihatan sangat mandiri, tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang
lain.
8.
Secara emosiol tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan
tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.
9.
Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik
secara verbal maupun fisik.
10.
Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna.
11.
Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti
rasa tidak aman, khawatir, minder, curiga dengan orang lain, dan merasa orang
lain sedang mengkritiknya.
12.
Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan
terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat
dipreaiksi oleh orang lain.
13.
Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Dampak
negatif lainnya dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan
remaja, tawuran, dan lainnya.
14. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan
anak, akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan orang tuannya
sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada ”peer group”nya sehingga
mudah terpengaruh dengan pergaulan negative
