Pola
asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan, anak harus
tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya. Pola asuh demokratis mempunyai ciri
orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. Pola asuh
permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk
berbuat. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua
dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut,
Pola
asuh otoriter mempunyai ciri :
1.
Kekuasaan orangtua dominan;
2.
Anak tidak diakui sebagai pribadi;
3.
Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat;
4.
Orangtua menghukum anak- jika anak tidak patuh;
Pola
asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang, sentuhan, dan
kelekatan emosi orangtua - anak sehingga antara orang tua dan anak seakan
memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si
patuh” (anak). Studi yang dilakukan oleh Fagan menunjukan bahwa ada keterkaitan
antara faktor keluarga dan tingkat kenakalan keluarga, di mana keluarga yang
broken home, kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga, dan orang tua
yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Pada akhirnya, hal
ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak.
