Secara klasik, tiap negara dapat melakukan upaya secara mandiri untuk menjawab dan
menyelesaikan
problem keterbelakangan yang
menghimpitnya.
Peluang untuk melakukan itu sangat terbuka, sama dengan
peluang yang dimiliki dan
telah dilakukan oleh negara-negara maju
lainnya dalam melakukan pembangunan di negaranya masing-masing.
Negara-negara yang masih berada dalam jurang keterbelakangan dan kemiskinan, masyarakatnya melakukan kegiatan
ekonomi secara
agraris dengan kultur dan tanah serta kebun yang
mereka miliki. Sedangkan negara maju adalah mereka yang ekonominya didasarkan pada kehidupan industri yang telah dilakukan sebelumnya sebagai pengganti ekonomi
agraris di negara maju tersebut. Jadi,
negara terbelakang identik dengan sawah dan kebun atau pertanian, sedangkan negara maju identik dengan pabrik dan segala jenis industrinya.
Pendapat klasik ini kemudian terfokus
pada anggapan bahwa keterbelakangan
adalah hambatan utama yang menyebabkan
negara-negara non-industri
(agraris)
gagal melakukan industrialisasi yang pernah dilakukan oleh negara-negara
industri pada masa sebelumnya pada abad XVIII dan XIX. Kerangka
inilah yang kemudian menjadi dasar
pemikiran
dari
WW.
Rostow
dengan
teori
lima
tahapan pembangunannya.
Sebagai seorang
ekonom positivistik, WW
Rostow memiliki tiga asumsi dasar yang tertuang dalam bukunya The
Stages of Economic Growth: a Non-Communist Manifesto. Pertama, Rostow berpendapat bahwa pembangunan adalah sebuah proses linier yang memerlukan perencanaan matang dalam
tiap segi pembangunannya,
bukan proses gradual yang zig-zag tanpa arah tertentu. Kedua,
pembangunan juga berarti kemampuan ekonomi, maka untuk mencapai
kemandirian ekonomi, sebuah negara harus melalui lima tahapan pembangunan. Ketiga, jika dalam
modernisasi, sebuah negara
tidak mencapai tahapan-tahapan tersebut secara linier, maka
pembangunan yang dilakukannya telah gagal. Artinya, kegagalan pembangunan
adalah kegagalan melewati lima tahapan pembangunan tersebut.
Pembangunan dipahami sebagai proses linier
artinya bahwa pembangunan adalah sebuah
tahapan yang harus ditempuh secara berurutan dari awal sampai akhir,
bukan merupakan tahapan yang dapat
ditempuh dengan cara meloncat-loncat. Ibarat angka, maka tahapan adalah perjalanan dari angka
satu, menuju dua, menuju tiga, menuju empat, sampai
seterusnya. Pembangunan bukanlah proses yang berjalan
dari angka satu, menuju tiga, menuju enam, kembali ke angka dua, lalu menuju empat,
karena langkah
semacam ini bukanlah langkah yang linier.
Konsentrasi utama sebuah negara dalam
melakukan pembangunan adalah peningkatan kemampuan
ekonomi warga negaranya, karena menurut Rostow, inti pembangunan adalah ekonomi. Bagaimanapun
bagusnya pertumbuhan fisik berupa
bangunan, institusi, budaya dan politik sebuah negara, tanpa diimbangi dengan peningkatan atau
pertumbuhan ekonomi yang
baik,
maka pembangunan tersebut dapat dikatakan
tidak berhasil. Jadi ukuran keberhasilan pembangunan menurut Rostow adalah
tingginya tingkat kemampuan ekonomi sebuah negara.
Dengan keberhasilan menumbuhkan ekonomi, maka
negara tersebut akan dapat mengembangkan sekian banyak aspek kehidupan
lain seperti politik, budaya, pendidikan, bidang sosial, keamanan, dan lain sebagainya.
