Pendidikan
karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah
tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas. Oleh
karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang
mulai terputus tersebut. Pembentukan dan pendidikan
karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan
tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Dengan demikian,
rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama
harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah
kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang atau tempat belajar
yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan
warrahmah). Sedangkan pendidikan
karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan
semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika,
estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan
kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan
nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah berlakunya
nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter
dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran
khusus untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral
Pancasila dan sebagainya.
Di samping itu tidak
kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat
mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas
sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika
untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab, situasi kemasyarakatan
dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang
masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas
pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
